LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

PENGENALAN GEJALA SERANGAN HAMA

ACEP MUHAMAD
( A34110066)

DOSEN          : Dra. Dewi Sartiami M.Si

                             Dr. Ir Sugeng Santoso MS

ASISTEN       : Cici Indriani (A34090064)

                          Azru Azhar (A341000048)

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITU PERTANIAN BOGOR

2013

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Hama merupakan binatang perusak tanaman budi daya yang berguna untuk kesejahteraan manusia.  Akibat serangan hama produktivitas tanaman menjadi menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya, bahkan tidak jarang terjadi kegagalan panen. Oleh karena itu kehadirannya perlu dikendalikan, apabila populasinya di lahan telah melebihi batas ambang ekonomik. Dalam kegiatan pengendalian hama, pengenalan terhadap jenis-jenis hama (nama umum, siklus hidup, dan karakteristik), inang yang diserang, gejala serangan, mekanisme penyerangan termasuk tipe alat makan serta gejala kerusakan tanaman menjadi sangat penting agar tidak melakukan kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian.

Pengendalian serangga memerlukan pengetahuan yang cukup tentang siklus hidup serangga, inang, gejala dan perkembangan populasi (Hidayat, 2003). Untuk itu mempelajari gejala serangan hama sangatlah penting.

 

1.2.   Tujuan

  1. Mendapatkan pemahaman tentang hama, gejala, kerusakan dan tanda yang diakibatkan oleh serangan hama.
  2. Mengetahui macam – macam alat makan dari beberapa jenis hama.
  3. Mampu mencari hubungan antara tipe mulut hama dengan gejala kerusakan yang ditimbulkan.
  4. Mengetahui hubungan tanaman inang dengan hama –hama tertentu.

BAB III

BAHAN DAN METODE

3.1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam kesempatan kali ini adalah beberapa tanaman yang ada di sekitar laboratorium yang terserang hama yaitu ;  tanaman jarak(Jatropha multifida),jambu bol (S.malaccense), Turi (S.glandiflora), padi (Oryzae sativa),tebu (Saccharum sp), kopi (Coffea), pepaya (C.papaya),pisang (Musa sp),mangga (M.indica), cabai (capsicum sp),jeruk(Citrus sp), dan beringin( F.benjamina).

 

3.2. Alat

Alat yang digunakan adalah pencil dan bolpoin untuk menggambar dan mencatat keterangan,buku atau kertas tempat gambar dan catatan.

 

3.3. Metode

Metode yang digunakan adalah metode observasi, yaitu mahasiswa langsung turun ke lapangan. Dalam hal ini yaitu halaman sekitar laboratorium.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

NO Tanaman Inang Gejala Kerusakan Penyebab Ordo,Family,Spesises Tipe alat mulut Gambar
1. jarak(Jatropha multifida) Bintik-bintik gejala nekrosis,warna daun tidak hijau lagi. Tungau Ordo Acariformes ,Fami li Tetranychidae,  Genus Euritetranychus, dan Spesies Euritetranychus sp

 

Menusuk penghisap, terdiri dari sepasang celicera dan sepasang alat peraba sensorik
2. jambu bol (S.malaccense)
  1. a.      Puru daun. Didalamnya berisi kutu. Apabila kutu keluar, ada lubang.
  2. b.      Lubang beraturan pada daun.
  3. a.      Megatrioza sp
  4. b.      Ulat kantung
a,Psyllidae latreille,Megatrioza spb.Pagodeila sp a. 

 

 

 

b.menggigit mengunyah

3. Turi (S.glandiflora)  Anak daun habis. Ulat hijau/ Ulat Pieridae Lepidoptera/Pieridae Menggigit mrngunyah
4. Padi (Oryzae sativa)
  1. a.      PUSO,  batang sampai daun berwarna coklat,bahkan ada yang mati.
  2. b.      Daun menggulung,menguning sampai kemerahan
  3. c.       Bentuk daun seperti bawang
    1. a.      Wereng coklat
    2. b.      Trips
  

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Hama ganjur

a.Homoptera,Delphacidae,Nilaparvata lugens,b.Thysanopthera, Thripidae

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Diptera/ Cecidomyiidae Megatrioza vitiensis

 

a.menusuk menghisapb.meraut mrnghisap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c. Mengait-menghisap

c.
5. Tebu (Saccharum sp)
  1. Pinggir daun terdapat bekas gigitan sehingga tidk rata.
  2. Bekas gigitan
  3. a.      Ulat
  4. b.      Belalang
  5. a.      Lepidoptera/ Satyridae
  6. b.      Orthoptera/Acrididae
  7. Menggigit menunyah
  8. Menggigit menunyah
a. b.
6. Kopi (Coffea)
  1. a.      Warna putih, klorosis
  2. b.      Buah berlubang
a.Kutu putihb. Penggerek buah kopi a.Hemiptera/Pseudococcidaeb. Coleoptera/Scolitydae / Hypothenemus hampei Menususk-menghisap a. b.
7. Pepaya (C.papaya) pucuk mati Kutu putih Hemiptera/Pseudococcidae/ paracoccus marginatus  
8. Pisang (Musa sp)
  1. a.      Daun menggulung sehingga daun tidak utuh
  2. b.      Burik pada buah pisang,
a.Ulat penggulung daun pisang.b. Ulat a.Lepidoptera/ Hesperiidae/ Erienota thraxb. Lepidoptera/ Pyralidae/ Nacoleila octasema a. Menggigit-mengunyahb.menggigit mengunyah  
9. Mangga (M.indica)  b. layu pada pucuk Wereng mangga Ordo;HemippteraFamily;Cicadelidae

Spesies;Idocerus

Pencucukmenusuk menghisap  
10. Cabai (capsicum sp)
  1. a.      Daun kuning mengeriting
  2. b.      Daun menguning,mengkriting dan belang
a.Tungaub.Kutu daun a.Trombodiformmes,Tetanicidae,Tetranichus spb.Hemiptera,Aphididae,Myzus persicae a.Menusuk menghisapb.menusuk menghisap  
11. Jeruk(Citrus sp) korokan kecil sebesar jarum dengan arah korokan berliku-liku. Bekas korokan berwarna putih kekuningan Ulat penggorok daun jeruk (Lepidoptera: Phyllocnistidae)(Phyllocnistis citrella)

 

Menggigit-mengunyah  
12. Beringin ( F.benjamina) daun melipat-lipat Thrips Thysanoptera;Terebrantia,Thripidae Memarut menghisap
13. Kubis Menyerang krop Ulat krop Lepidoptera/ Pytalidae/  Crocidolomia pavonaa Enggigit mengunyah


4.2. Pembahasan

            Gejala serangan hama pada berbagai tanaman budidaya yang ada di lingkungan Laboratorium memperlihatkan keragaman bentuk gejala yang disebababkan oleh hama yang berbeda. Perbedaan tersebut terlihat pada inang yang sama taupun berbeda. Hama dengan alat mulut menggigit mengunyah kebanyakan dari larva ordo Lepidoptera. Selain larva Lepidoptera ada juga dari ordo Orthoptera yaitu belalang dan Coleoptera yaitu penggerek buah kopi. Alat mulut menggigit-mengunyah menyebabkan gejala bekas gigitan, lubang, gerekan dan gorokan.

Kebanyakan dari ordo Hemiptera memiliki alat mulut menusuk menghisap . Selain Hemiptera terdapat juga tungau. Gejala yang ditimbulkan oleh menusuk menghisap adalah bercak nekrosis, klorosis dan puru. Hama dengan alat mulut meraut-menghisap hanya dari ordo Thysanoptera famili tripidae. Gejala yang ditimbulkan adalah bercak keperakan pada tanaman yang diserang dan ada juga daun yang melipat seperti pada beringin.

Serangan hama Megatrioza vitiensis denga alat mulut mengait menghisap menimbulkan gejala pada tanaman padi yaitu bentuk batang padi seperti bawang. Beberapa bentuk gejala kerusakan yang ditimbulkan oleh serangga hama memang menyirikan kekhasan sendiri, misalnya serangga Erienota thrax yang menyerang tanaman pisang. Gejala yang ditimbulkan adalah daun pisang yang menggulung. Selain itu ada juga Megatrioza sp. yang menyebabkan puru pada jambu bol. Puru tersebut berisi telur Megatrioza sp. yang jika menetas akan menyebabkan puru tersebut pecah dan tempat bekas puru menjadi berlubang.

 

 

 

 

 

Kesimpulan

            Praktikum pengenalan gejala serangan hama berhasil. Karena praktikan dapat melihat dan mengenal berbagai gejala kerusakan yang disebabkan oleh serangan hama pada berbagai jenis inang di lapangnan. Diantara banyak bentuk gejala kerusakan,ada beberapa bentuk yang khas disebabkan oleh hama tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Hidayat, Purnama. 2003. Pengantar Entomologi. Bogor: IPB Press

Kalshoven LGE.  1981.  The Pests of Crops in Indonesia.  Laan PA van der, penerjemah.  Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesie.

Pracaya. 2008. Hama dan Penyakit Tanaman. Depok: Penebar Swadaya

 

 

 

 

 

 

 

Tugas MK Ekonomi Pertanian (ESL 211)

Kelas paralel 7 kamis

RENDAHNYA KONSUMSI JERUK KOMODITAS LOKAL

DI PASAR DOMESTIK

Oleh:

                                    Lutfianti Fadilah       A34110051

                                    Winarsih                    A34110053

                                    Dian Saraswati          A34110065

                                    Acep Muhammad     A34110066

                                    Rizky Yunita Putri    A34110073

 

Dosen :

Hastuti, SP, MP, M.Si

Deffi Ayu, PS, P.hD

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan tugas ekonomi pertanian Rendahnya Konsumsi Jeruk Komditas Lokal di Pasar Domestik. Tujuan utama penulisan tidak semata-mata untuk menyelesaikan tugas akhir melainkan untuk berbagi pengetahun dengan para pembaca, serta untuk menambah wawasan mahasiswa, khususnya fakultas Pertanian, fakultas Ekonomi dan fakultas lain yang berminat.

Penyusun merasakan kekurangan dalam pembuatan makalah ini sebagai referensi dan penambah pengetahuan. Diharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat, tidak hanya ntuk mahasiswa, tetapi juga pembaca umum serta berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini bukanlah sebuah kesempurnaan, untuk itu diharapkan kritik dan saran dari para pembaca juga para ahli agar penulis dapat memperbaiki guna untuk kemajuan bersama. Akhirnya penulis mengucapkan selamat membaca dan mempelajarai, semoga dengan rahmat Allah SWT dapat dipahami dan ada manfaatnya.

 

 

 

 

 

Bogor, Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………….. 2

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………….. 3

Daftar Tabel………………………………………………………………………………………… 4

Daftar Gambar…………………………………………………………………………………….. 5

PENDAHULUAN

Latar Belakang……………………………………………………………………………………. 6

Tujuan……………………………………………………………………………………………….. 6

TINJAUAN PUSTAKA

Faktor Produksi…………………………………………………………………………………… 7

Faktor Kebijakan Harga……………………………………………………………………….. 7

Selera Konsumen………………………………………………………………………………… 7

Sistem Pemasaran……………………………………………………………………………….. 8

PEMBAHASAN

Produksi Jeruk Indonesia……………………………………………………………………… 9

Kebijakan Harga…………………………………………………………………………………. 11

Selera Konsumen Terhadap Jeruk Lokal………………………………………………… 11

Pemasaran Jeruk…………………………………………………………………………………  12

KESIMPULAN………………………………………………………………………………….  15

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………….. 16

 

 

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbandingan masa panen sentra produksi jeruk Indonesia dengan negara produsen  jeruk dunia lainnya……………………………………………………………………… 9

Tabel 2. Produksi, Luas Panen dan Produktifitas Jeruk Indonesia………………….. 10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 dan 2. Produksi Benih Jeruk di Australia………………………………… 10

Gambar 3. Jeruk Impor………………………………………………………………………… 11

Gambar 4. Jeruk Lokal…………………………………………………………………………. 11

Gambar 5. Tray Kapasitas Jeruk……………………………………………………………. 13

Gambar 6. Seleksi Buah……………………………………………………………………….. 13

Gambar 7. Sortasi dan Grading……………………………………………………………… 13

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Pertumbuham impor jeruk sebesar 11% tiap tahun dalam sepuluh tahun ini membuat Indonesia menjadi pangsa pasar yang menjanjikan bagi negara lain dalam memasarkan produknya. Liberalisasi perdagangan jeruk telah mengancam keberadaan jeruk Indonesia sejak diluncurkannya Paket Juni/PAKJUN 1994 yang salah satu unsurnya adalah penurunan tarif impor buah-buahan termasuk jeruk. Apalagi disusul diberlakukannya ASEAN FTA/AFTA dan ASEAN-China FTA (Hutabarat, B dan Adi Setyanto, 2007). Dengan hilangnya hambatan tarif, berbagai Negara produsen jeruk dunia seperti China, Australia, Amerika, Pakistan semakin leluasa memasarkan produknya dengan harga yang lebih murah dalam jumlah lebih besar. Saat ini Indonesia termasuk negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN   setelah Malaysia, dengan volume impor sebesar 160.254 ton; sedangkan ekspornya hanya sebesar 415 ton pada 2010 (BPS) dengan tujuan ke Malaysia, Brunei Darusalam, dan Timur Tengah. Ekspor jeruk nasional masih sangat kecil dibanding dengan negara produsen jeruk lainnya seperti Brazil, China, Amerika, Spanyol, Afsel, Yunani, Maroko, Belanda, Turki dan Mesir.

Produksi jeruk lokal tiap tahunnya meningkat namun produksi tinggi tidak dibarengi dengan konsumsi yang tinggi (BPS). Apabila dibandingkan dengan konsumsi jeruk impor, maka konsumsi masyarakat terhadap jeruk lokal termasuk rendah dengan jumlah produksi yang ada. Data BPS akhir 2011 menunjukan produksi jeruk dalam negeri 454,83 ribu ton dan konsumsi masyarakat 178,68 ribu ton. Namun, selama itu, RI masih melakukan impor sebesar 49,61 ribu ton jeruk.

I.2 Tujuan

Menganalisis faktor-faktor penyebab rendahnya konsumsi jeruk komoditas lokal dan upaya meningkatkan konsumsi jeruk komoditas lokal.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Faktor Produksi

Dalam usaha pertanian, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh resiko. Faktor produksi meliputi empat komponen yaitu tanah,modal,tenaga kerja dan skill atau manajemen ( Daniel, 2004). Semua faktor tersebut saling ketergantungan. 3 faktor pertama harus ada dalam kegiatan produksi. Sementara skill atau pengelolaan lebih menekankan pada pertanian maju dan berorientasi pasar. Aadanya sarana produksi yang mendukung kegiatan produksi juga menjadi bagian yang merubah hasil produksi.

II.2. Faktor Kebijaksanaan Harga

Harga merupakan salah satu faktor yang sulit dikendalikan. Kebijaksanaan mengenai harga biasanya merupakan weweang pemerintah yang diturunkan dalam bentuk peraturan dan keputusan.beberapa bentuk kebijaksanaan dalam pertanian diantaranya adalah subsidi,penetapan harga dasar pada saat panen raya,penetapan harga maksimum pada saat paceklik dan kebijaksanaan impor yang bertujuan untuk;

  1.  memenuhi kebutuhan dalam negeri
  2. menjaga stabilitas harga pada tahapan riil, tidak memberatkan konsumen dan produse
  3. menjaga ketahanan nasional di bidang pangan.

Dalam kaitannya dengan permintaan, harga suatu barang mempengaruhi jumlah permintaan terhadap barang tersebut.

 

II.3. Selera Konsumen

Selera konsumen merupakan variabel yang pengaruhnya besar terhadap besar kecilnay permintaan. Selera konsumen sendiri biasanya dipengaruhi oleh struktur umum konsumen. Selain itu faktor adat,kebiasaan setempat, dan tingkat pendidikan juga memberi pengaruh terhadap selera konsumen.

II.4. Sistem Pemasaran

Sistem pemasaran menjadi hal yang sangat penting setelah selaisanya proses produksi pertanian. Sisem pemasran bisa dikatakan efisien apabila:

  1. mampu menyampaikan hasil pertanian dair produsen kepada konsumen dengan biaya srendah-rendahnya,dan
  2. mampu menjadikan pembagian adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang terlibat dalam pemasaran.

Lalu bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia khususnya untuk produk pertanian hortikultur yaitu jeruk dilihat dari ke-empat aspek diatas dan pengaruhnya terhadap jumlah konsumsi jeruk dalam kurun waktu tertentu?. Untuk itu akan dibahas didalam pembahasan mengenai hal ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Produksi Jeruk Indonesia

Buah Jeruk menjadi salah satu buah yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Diantaranya yang paling populer adalah jeruk keprok (mandarin) yang dikonsumsi sebagai buah segar. Jeruk Keprok rasanya manis, segar, harga relatif murah, dan mudah didapat dimana saja, kapan saja di seluruh pelosok negeri. Apalagi dalam beberapa tahun sekarang ini buah jeruk impor membanjiri pasar Indonesia. Ketersediannya hampir sepanjang tahun. Berikut ditampilkan perbandingan masa panen jeruk Indonesia (siam, keprok dan pamelo) dan masa panen jeruk di luar negeri.

Tabel 1. Perbandingan masa panen sentra produksi jeruk Indonesia dengan negara produsen  jeruk dunia lainnya
Sumber BPS 2010 dan Federal Bureau of Statistics, Government of Pakistan, Karachi (2005)

Walaupun buah jeruk di Indonesia dapat dijumpai sepanjang tahun, tetapi periode panen buah jeruk di Indonesia umumnya dimulai dari bulan Februari hingga September dengan puncaknya terjadi pada bulan Mei, Juni, dan Juli seperti terlihat pada Tabel 1 yang dapat bergeser  karena  perlakuan  pengaturan  pembungaan dan akhir-akhir ini berubah pula diakibatkan oleh cuaca yang tidak menentu. Pola panen tersebut memperlihatkan bahwa ketersediaan jeruk lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik sepanjang tahun, sehingga membuka peluang masuknya jeruk-jeruk impor. Dari sisi waktu panen, periode awal dan akhir tahun di berbagai propinsi sentra jeruk tidak mengalami panen, namun justru di luar negeri terjadi panen raya dan stok buah melimpah.

Tabel 2. Produksi, Luas Panen dan Produktifitas Jeruk Indonesia (2005-2009)

Tabel diatas mengindikasikan tidak adanya perubahan drastis dalam produksi jeruk di Indonesia.apabila kita bandingkan faktor produksi jeruk yang ada di Indonesia dengan beberapa negara yang menjadi produsen jeruk yang banayak, maka akan terlihat perbedaan signifikan pada faktor produksi manajemen atau pengelolaan. Selain karena sumber daya manusia spesialis tanaman jeruk di Indonesia terbatas, saana produksi khususnya teknologi yang digunakan pada proses produksi jeruk dari hulu ke hilir masih minim.

 

Perbenihan jeruk                                                                       produksi benih skala besar

Gbr. 1 dan 2. Produksi Benih Jeruk di Australia

III.2 Kebijaksanaan Harga

Komoditas JerukBuah-buahan Impor,khususnya China memiliki banyak keunggulan, seperti harga yang lebih rendah dan ketersediaan pasokan yang melimpah. Jeruk mandarin dari China, misalnya, bisa dijual ke konsumen dengan harga Rp 17.000per kilogram. Bandingkan dengan jeruk medan atau jeruk pontianak yang dijual lebih mahal, yaitu Rp 20.000 per kilogram menurut data Asosiasi Eksportir Sayuran dan Buah Indonesia (AESBI). Hal tersebut terjadi karena mudahnya barang dari negara lain masuk ke pasar di Indonesia dibarengi dengan produksi yang banyak dan berkualitas. Sehingga harga jeruk impor lebih murah. Ketersediaannya di hampir setiap bulan dengan kualitas stabil membuat jeruk ini bertahan dan permintaannya terus meningkat di pasaran. Sedangkan untuk jeruk lokal, biasanya banyak dipengaruhi oleh masa tertentu seperti pada panen raya yang menyebabkan harga jeruk jatuh sehingga pemerintah harus menentukan harga agar tidak merugikan petani . Pada musim paceklik, biasanya harga jeruk lokal naik drastis. Untuk memenuhi kebutuhan jeruk, Indonesia impor dari luar negeri. Keadaan seperti ini menyebabkan konsumen lebih memilih jeruk Impor dalam memilih jerk untuk memenuhi kebutuhannya.

III.3 Selera Konsumen Terhadap Jeruk Lokal

Gambar 3. Jeruk Impor

 

Gambar 4. Jeruk lokal

Perbandingan gambar yang menunjukan keadaan jeruk yang ada di pasar, memungkinkan konsumen memilih jeruk impor yang lebih bagus. Mindset masyarakat di Indonessia terhadap barang Impor adalah lebih baik dari barang lokal. Ada perasaan lebih baik ketika memilih barang dari luar negeri. Dengan mindset seperti itu otomatis menyebabkan permintaan jeruk impor semakin meningkat setiap tahunnya. Sementara jeruk lokal semakin jarang ditemukan dipasar. Kecuali jeruk-jeruk yang harganya lebih mahal dari jeruk impor. Selera orang Indonesia juga dipengaruhi oleh ukuran murahnya barang. Padahal sudah banyak informasi yang menjelaskan bahwa kualitas jeruk lokal tidak kalah dengan jeruk impor,bahkan bisa jauh lebih baik. Namun pada kenyataannya lebih banyak masyarakat yang lebih memilih jeruk impor.

III.4 Pemasaran Jeruk

Adanya perdagangan bebas antara negara-negara ASEAN dan China menyebabkan komoditas jeruk yang mayoritas diimpor dari China telah bebas masuk ke pasar Indonesia. Dengan kualitas yang terlihat bagus dan harga yang murah, konsumen banyak yang memilih jeruk impor tersebut. Pedagang pun demikian. Tidak hanya supermarket dan swalayan,pasar tradisional pun lebih banyak menjajakan jeruk impor dibandingkan jeruk lokal. Dengan daya dukung SDM dan teknologi yang lebih maju, negara-negara produsen jeruk di dunia terus mengembangkan sistem pemasaran supaya setiap hasil produksi mereka terus tetap diterima. Baik secara pengangkutan,penyimpanan dan pengolahan jeruk yang ada di negara maju seperti tidak ada hambatan sama sekali. Terbukti dengan tersebarnya jeruk seperti sunkist, mandarin dan yang lainnya di seluruh pelosok negeri ini. Selain itu beberapa produksi minuman penyegar yang diproduksi dari buah jeruk impor pun merajalella di pasaran. Kebalikan dengan yang terjadi di Indonesia, kesulitan pengangkutan seperti pengangkutan jeruk pontianak,jeruk medan untuk sampai di pusat kota. Bahkan beberapa data menyebutkan bahwa biaya proses pengiriman barang impor dari luar negeri lebih murah dari pada proses pengangkutan jeruk dari berbagai pelosok negeri.

 

Gambar.5 Tray kapasitas 400 Kg jeruk                                Gambar.6 Seleksi Buah

 

Gambar.7 Sortasi dan grading

            Ke-empat faktor dari sebagian faktor-faktor yang menjadi bahasan penting dunia perekonomian pertanian diatas memperlihatkan adanya masalah dalam perekonomian pertanian negara Indonesia. Dampak dari rendahnya kuantitas dan kualitas produksi jeruk lokal,harga jeruk lokal yang cendrung lebih mahal,penampilan yang kurang menarik dibandingkan dengan jeruk impor menyebabkan selera konsumen lebih memilih ke jeruk impor. Akibatnya permintaan terhadap jeruk impor semakin meningkat. Dan konsumsi terhadap jeruk lokal menurun atau lebih  rendah. Apabila keadaan terus bertahan seperti ini, meskipun produksi jeruk kita terus meningkat,tanpa diimbangi konsumsinya. Maka perekonomian dari sektor ini akan hancur. Harus ada usaha penyelesaian yang berkesinambungan untuk melepaskan ketergantungan terhadapa barang impor khususnya jeruk(Nainggolan, 2005).

Ada beberapa cara untuk melepaskan ketergantungan terhadap impor diataranya.

  1. Tidak ada salahnya kita belajar dari negara maju mulai dari sistem produksi sampai sistem pemasaran.
  2. Terus berupaya meningkatkan kualitas baik secara fisik maupun secara kandungan nutrisi pada jeruk komoditas lokal.
  3. Sosialisasi mengenai buah lokal khususnya jeruk secara berkesinambungan.
  4. Perlu adanya SDM yang fokus terhadap bidang produksi jeruk ini. Baik dari pemuliaan tanaman,ahli teknologi sampai ahli ekonomi langsung.

KESIMPULAN

            Daya saing komoditas jeruk lokal di pasar domestik cendrung rendah. Banyak permasalahan yang melatar belakangi rendahnya konsumsi tersebut diantaranya adalah produktifitas yang masih rendah,harga yang kalah bersaing dengan produk impor, selera konsumen yang lebih memilih produk impor serta sistem pemasaran yang ada masih belum maksimal, dan masih jauh bila dibandingkan dengan sistem pemasaran jeruk impor dari negara-negara maju. Untuk meningkatkan komsumsi akan jeruk lokal yang beredar dipasaran, perlu dibenahi sistem produksi jeruk lokal, kebijaksanaan harga dan ekspor ekspor,sosialisasi komoditas loka ldan sistem pemasaran yang lebih efektif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]  Harga Jeruk di Indonesia. 2010. Kenapa Jeruk Pontianak Lebih Mahal dari      Jeruk China [terhubung berkala]. http://www.beritabisnis.com [06      Desember        2012]

Daniel  Maher. 2001. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bumi Aksara:Jakarta

[Desk Informasi] Ekspor Impor Produk Hortikultura. 2012. Kemendag Tunda        Pemberlakukan Aturan Impor Produk Hortikultura [terhubung berkala]       http://www.kemendag.com [08 Desember 2012]

Nainggolan Kaman.2005.Pertanian Indonesia  Kini dan Esok.Pustaka Sinar            Harapan: Jakarta

Pembasmi hama atau pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama“) yang diberi akhiran -cide (“pembasmi”). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai “racun”.

Tergantung dari sasarannya, pestisida dapat berupa

Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem. Dengan adanya pestisida ini, produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga semakin baik. Karena pestisida tersebut racun yang dapat saja membunuh organisme berguna bahkan nyawa pengguna juga bisa terancam bila penggunaannya tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan. menurut depkes riau kejadian keracunan tidak bisa di tanggulangi lagi sebab para petani sebagian besar menggunakan pestisida kimia yang sangat buruk bagi kesehatan mereka lebih memilih pestisida kimia dari pada pestisida botani (buatan) kejadian keracunan pun sangat meningkat di provinsi tersebut. mMnurut data kesehatan pekan baru tahun 2007 ada 446 orang meninggal akibat keracunan pestisida setiap tahunnya dan sekitar 30% mengalami gejala keracunan saat menggunakan pestisida Karena petani kurang tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan penggunaan pestisida secara berlebihan, dan berdasarkan hasil penilitian Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. dari Sumatera Barat tahun 2005 mengatakan penyebab keracunan pestisida di Riau akibat kurang pengetahuan petani dalam penggunaan pestisida secara efektif dan tidak menggunakan alat pelindung diri saat pemajanan pestisida,hasilnya dari 2300 responden yang peda dasarnya para petani hanya 20% petani yang menggunakan APD (alat pelindung diri), 60% patani tidak tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan mereka mengatakan setelah manggunakan pestisida timbul gejala pada tubuh ( mual,sakit tenggorokan, gatal – gatal, pandangan kabur, Dll.)dan sekitar 20% petani tersebut tidak tau sama sekali tentang bahaya pestisida terhadap kesehatan,begitu tutur Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. beliau juga mengatakan semakin rendah tingkat pendidikan petani semakin besar risiko terpajan penyakit akibat pestisida. Oleh karena itu, adalah hal yang bijak jika kita melakukan usaha pencegahan sebelum pencemaran dan keracunan pestisida mengenai diri kita atau makhluk yang berguna lainnya. Usaha atau tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah :

  1. Ketahui dan pahami dengan yakin tentang kegunaan suatu pestisida. Jangan sampai salah berantas. Misalnya, herbisida jangan digunakan untuk membasmi serangga. Hasilnya, serangga yang dimaksud belum tentu mati, sedangkan tanah dan tanaman telah terlanjur tercemar.
  2. Ikuti petunjuk-petunjuk mengenai aturan pakai dan dosis yang dianjurkan pabrik atau petugas penyuluh.
  3. Jangan terlalu tergesa-gesa menggunakan pestisida. Tanyakan terlebih dahulu pada penyuluh.
  4. Jangan telat memberantas hama, bila penyuluh telah menganjurkan menggunakannya.
  5. Jangan salah pakai pestisida. Lihat faktor lainnya seperti jenis hama dan kadang-kadang usia tanaman juga diperhatikan.
  6. Gunakan tempat khusus untuk pelarutan pestisida dan jangan sampai tercecer.
  7. Pahami dengan baik cara pemakaian pestisida.

Menghadiri undangan peluncuran buku antologi puisi alit “Kitab Radja – Ratoe Alit” yang ditulis oleh 50 penyair Indonesia, memberikan kesan yang sangat luar biasa. Ternyata kekhawatiran dan keprihatinan atas apresiasi puisi di Indonesia sudah bukan lagi hanya masalah soal seni semata, tetapi menyangkut masalah politik dan nasionalisme di dalam berbangsa dan bernegara. Mengapa Negara yang kaya akan budaya bahasanya seperti Indonesia, tidak bisa melakukannya?!

Acara yang diadakan pada hari Jumat, 30 September 2011 di Gedung Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ini diadakan oleh Komunitas Radja Kecil. Dihadiri oleh Walikota Bandung, Bapak Dada Rosada, Anggota MPR RI Dedy “Miink” Gumelar, Prof. Drs. Jakob Sumardjo, Prof. Prijono Tjiptoherjijanto, Ph.D, dan para professor dari berbagai universitas, dan banyak pujangga terkenal Indonesia seperti Remy Silado, Handrawan Nadesul, Dharmadi, Linda Djalil, dan masih banyak lagi. Buku ini sendiri diprakarsai oleh Prof. Prijono Tjiptoherijanto, Ph.D, dengan tim kurator dan editornya terdiri dari Adri Darmadji Woko, Dharmadi, Kurniatan Junaedhie dan Rahadi Zakaria.

Yang menarik di dalam acara ini adalah adanya Orasi Budaya oleh Prof. Drs. Jakob Sumardjo. Beliau mempertanyakan mengapa apresiasi puisi di Indonesia sangatlah rendah. Apakah karena puisi yang dibuat tidaklah pantas untuk dihargai ataukan memang karena masyarakatnya dan bahkan pemimpinnya tidak memiliki kemampuan untuk membaca puisi dengan baik?! Hal ini mengingat banyak yang menulis puisi, tetapi tidak semua penulis dan puisinya bisa dinikmati dan memiliki arti dan makna. Begitu juga dengan pembaca puisi, tidak kurang banyaknya, tetapi seberapa banyak yang bisa mengerti arti dan makna dari puisi yang dibacanya?!

Bila hal ini dikaitkan dengan sejarah bangsa Indonesia, tentunya menjadi sebuah keprihatinan tersendiri. Seperti yang dikatakan oleh Handrawan Nadesul, seorang dokter yang telah menulis 78 buku kesehatan tetapi mengabdikan diri untuk menjadi seorang sastrawan, bahkan masuk ke dalam kelompok angkatan “80 versi HB. Jassin, bahwa sedari dulu, pujangga bukanlah sekedar pujangga. Pujangga adalah seorang penasehat bagi raja. Tidak mudah untuk bisa mendapatkan gelar dan predikat pujangga karena setiap kata yang diuraikannya selalu menjadi penting bagi kehidupan dan masa depan rakyatnya sendiri. Oleh karena itu, puisi pun tidak bisa sekedar “hanya” berpuisi dan sudah sepatutnya puisi yang benar puisi itu dihargai dan diapresiasi.

Sejarah juga menunjukkan bahwa para seniman puisi Indonesia memiliki peranan yang sangat penting di dalam berjuang dan melakukan perubahan. Para pejuang kita dulu bahkan menurut saya, sangatlah romantis. Mereka memiliki pemikiran kritis namun sangat disiplin dan memperhatikan aturan serta etika sehingga kata-kata yang mereka ucapkan sangatlah puitis dan indah untuk didengar. Biarpun demikian, mampu membangkitkan semangat untuk terus berjuang dan melakukan perubahan.

Sekarang ini, mungkin banyak juga para pemimpin bangsa yang senang dengan puisi dan menghargainya. Tak sedikit juga yang menuliskannya, tetapi sekali lagi, puisi bukanlah sekedar puisi. Puisi yang dituliskan tanpa menggunakan “rasa” yang penuh dengan kebeningan hati serta ketulusan, maka hasilnya pun tidak akan pernah maksimal. Demikian juga dengan membaca puisi, bila hanya asal saja, maka penghayatan itu tidak akan pernah ada. Mungkinkah ini juga yang menyebabkan para pemimpin bangsa kita tidak lagi sensitif terhadap keadaan dan kondisi rakyat, bangsa, dan negaranya sendiri?!

Menurut saya, hal ini menjadi sebuah bukti bahwa kualitas daya baca dan bahasa kita sangatlah rendah. Pendidikan dan jabatan bisa saja tinggi, harta bisa saja bertumpuk, buku pun puluhan ribu sudah dibaca, tetapi bila tidak memiliki kualitas daya baca dan bahasa yang baik, menjadi percuma saja. Apa yang dibaca hanyalah sekedar aksara, sementara setiap kata di dalam tulisan sangatlah ambigu. Ada teks dan konteks yang keduanya harus benar dipahami dan dimengerti agar bisa menjadi benar “meresap” ke dalam jiwa. Hasil dari penyerapan setiap kata itu pun akan memberikan arti dan banyak manfaat bagi diri sendiri dan juga semua.

Hal ini juga disampaikan oleh Bapak Dedy “Miink Gumelar” saat hendak membacakan puisi dan saat saya bertanya padanya usai acara, bahwa beliau sangat prihatin sekali dengan pendidikan bahasa di Indonesia saat ini. Salah satu kritiknya antara lain adalah tidak dipelajarinya bahasa Indonesia dan bahasa daerah dengan baik, pendidikan bahasa justru lebih diprioritaskan pada bahasa asing terutama bahasa Inggris. Bahkan pemimpin pun tidak bisa menempatkan posisinya sebagai pemimpin bangsa dan menggunakan bahasa Inggris pada saat dan waktu yang tidak tepat.

Bagaimana mungkin sebuah bangsa bisa menjadi kuat bila tidak mampu menghargai dirinya sendiri?! Bahasa yang jelas merupakan identitas bangsa pun diabaikan dan diremehkan sedemikian rupa. Bagaimana juga sebuah bangsa bisa menjadi maju dan memiliki kehidupan yang lebih baik bila tidak mampu untuk membaca dan berbahasa dengan baik?! Padahal, bahasa adalah buah dari pemikiran dan merupakan juga alat dan sarana untuk berpikir. Kondisi bahasa dan segala perubahannya menunjukkan bagaimana kondisi sosial, politik, budaya, dan psikologis bangsa itu sendiri.

“Astaga” adalah kata yang sangat tepat di dalam mengakhiri acara ini. Sama dengan judul puisi yang dibawakan oleh Remy Silado, sebuah puisi yang berisi kritikan dan keprihatinan terhadap bangsa dan Negara lewat bahasa dan berpuisi. Di bait-bait terakhirnya, kata-kata menggunakan bahasa Inggris digunakan dan bahkan dinyanyikannya. Yang bagi saya, seolah sedang berkata, “Beginilah jika pemimpin lebih bangga berbahasa Inggris dan hanya mampu melantunkan kata-kata indah tetapi tidak juga mampu untuk merasakannya”. Mengingatkan saya pada sebuah nama, siapa, ya?!

Sudah waktunya kita semua memikirkan hal ini bila memang mau keadaan berubah menjadi lebih baik. Apresiasi terhadap puisi sama artinya dengan apresiasi terhadap buah pikir dan rasa, dan belajar untuk meningkatkan kualitas daya baca dan bahasa sama artinya dengan belajar untuk menjadi lebih terdidik dan maju. Jangan pernah menundanya lagi!

a nasyid team from Bandung city

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Categories
  • No categories